Berita & Artikel

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Mengapa Setiap Perusahaan di Bali Butuh Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab ?

Bali dikenal sebagai pulau wisata dunia, namun di balik pesonanya, tantangan lingkungan terus meningkat. Salah satu masalah utama yang perlu ditangani serius adalah sampah. Pertumbuhan sektor pariwisata dan industri turut meningkatkan volume sampah yang dihasilkan setiap hari, terutama dari perusahaan, hotel, villa, restoran, dan pabrik.

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Provinsi Bali menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 09 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Kebijakan ini menegaskan bahwa setiap pelaku usaha di Bali memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah yang mereka hasilkan secara mandiri dan berkelanjutan.

Apa Itu Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber?

Pengelolaan sampah berbasis sumber berarti sampah harus dipilah dan dikelola sejak dari tempat asalnya (sumber). Tidak boleh langsung dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir (TPA). Proses ini mencakup:

  • Pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan residu
  • Pemanfaatan kembali sampah yang masih bisa digunakan
  • Pengolahan sampah organik menjadi kompos atau cairan eco-enzym
  • Pengurangan timbulan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle

Tujuannya adalah menciptakan sistem zero waste yang mengedepankan pengurangan sampah seminimal mungkin dan pemrosesan secara lokal.

Kewajiban Perusahaan di Bali

Berdasarkan edaran gubernur, seluruh perusahaan di Bali diwajibkan:

  • Memiliki sistem pemilahan dan pengumpulan sampah
  • Berkolaborasi dengan pihak ketiga yang memiliki izin resmi untuk pengangkutan atau pengolahan sampah
  • Tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik dan residu
  • Mendukung program pelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah yang bertanggung jawab

Ini bukan hanya himbauan moral, tapi bentuk penegakan regulasi lingkungan yang berdampak luas pada operasional perusahaan di Bali.

Dampak Buruk Jika Sampah Tidak Dikelola

Beberapa risiko dan dampak jika pengelolaan sampah diabaikan:

  • Pencemaran lingkungan, baik darat maupun laut
  • Peningkatan emisi gas rumah kaca, terutama dari sampah organik yang membusuk
  • Kerusakan citra bisnis, terutama di sektor wisata
  • Sanksi administratif dari pemerintah daerah

Selain itu, ketergantungan pada TPA juga memperparah beban daerah karena kapasitas yang semakin terbatas.

Menuju Zero Waste: Jalan Bersama

Mewujudkan pengelolaan sampah di Bali yang ideal memerlukan partisipasi aktif dari semua sektor, termasuk dunia usaha. Implementasi sistem zero waste bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perusahaan dan masyarakat. Ini adalah gerakan kolektif untuk menjaga keberlangsungan lingkungan, budaya, dan pariwisata Bali.

Langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mendukung inovasi dari hasil olahan sampah (seperti paving block dari residu, atau cairan eco enzym dari organik), akan membawa dampak nyata bagi Bali di masa depan.

Pengelolaan sampah di Bali bukan lagi pilihan, melainkan keharusan hukum dan moral. Setiap perusahaan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat, berkelanjutan, dan mendukung visi Bali Bersih, Hijau, dan Berbudaya. Dengan memahami regulasi yang berlaku dan berkomitmen menjalankannya, kita semua dapat menjadi bagian dari solusi, bukan penyumbang masalah.

Berita Lainnya