Berita & Artikel

pengolahan sampah bali
Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Threads

TPS3R Manah Liang Jadi Sorotan Internasional, Delegasi 3 Negara Pelajari Model Pengelolaan Sampah Zero Waste

Klungkung, BALI – Suasana di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Manah Liang terasa berbeda hari ini. Bukan karena tumpukan sampah yang datang, melainkan karena kedatangan tamu istimewa dari tiga negara: Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Mereka adalah para profesional yang tergabung dalam SusNet Business Network, sebuah jaringan bisnis yang fokus pada keberlanjutan.

Tujuan mereka satu: belajar langsung dari salah satu role model pengelolaan sampah zero waste terbaik di Indonesia. TPS3R Manah Liang, yang berawal dari keprihatinan lokal, kini telah menjelma menjadi pusat inspirasi di kancah internasional.

Para delegasi disambut hangat oleh dua tokoh kunci di balik kesuksesan fasilitas ini: Swesty Prahayani, Direktur Asta Group yang juga Komisaris Utama Asta Manah Liang, dan Putu Gede Indra, selaku Direktur Utama Asta Manah Liang.

“Selamat datang di rumah kami,” sapa Swesty Prahayani dengan ramah. “Ini bukan hanya tentang mengelola sampah, tapi tentang membangun martabat komunitas dan membuktikan bahwa solusi dari tingkat akar rumput bisa mendunia. Kami sangat terbuka untuk berbagi apa yang telah kami pelajari.”

Menyelami Proses Ajaib: Dari Sampah Menjadi Berkah

Kunjungan delegasi bukanlah sekadar tur biasa. Mereka diajak menyelami setiap jengkal proses yang mengubah sampah, yang sering dianggap masalah, menjadi berkah.

  1. Pondok Edukasi: Perjalanan dimulai di sini. Para tamu disuguhkan cerita dan visi di balik Manah Liang. Filosofi utamanya sederhana namun kuat: sampah harus selesai di sumbernya, dan setiap material memiliki nilai.
  2. Area Pemilahan: Delegasi dibuat takjub oleh ketekunan para pekerja yang memilah sampah anorganik dengan cermat. Plastik, botol, kertas, dan logam dipisahkan untuk didaur ulang, menjadi sumber pendapatan yang menghidupi operasional TPS3R.
  3. Unit Vermicompost: Di sinilah “keajaiban” sesungguhnya terjadi. Para delegasi melihat langsung ribuan cacing tanah bekerja tanpa lelah mengolah sampah organik sisa makanan menjadi vermicompost atau kascing—pupuk organik super yang sangat subur. “Di negara kami, sampah organik masih menjadi masalah besar. Melihat bagaimana di sini sampah justru menjadi emas hitam untuk pertanian, ini benar-benar membuka mata kami,” ujar salah satu delegasi dari Singapura.

SmartWase: Otak Digital di Balik Operasional yang Efisien

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah inovasi teknologi buatan sendiri bernama Aplikasi SmartWase. Sistem digital ini adalah otak yang mengatur seluruh operasional TPS3R Manah Liang.

Putu Gede Indra menjelaskan, “Dengan SmartWase, kami bisa melacak setiap kilogram sampah yang masuk dari warga, menjadwalkan penjemputan secara efisien, hingga menyajikan laporan data yang transparan. Ini adalah kunci kami untuk menjaga akuntabilitas dan terus berkembang.”

Aplikasi ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah modern tidak harus mengandalkan teknologi mahal dari luar negeri. Inovasi lokal pun bisa memberikan dampak yang luar biasa. “Integrasi teknologi seperti ini sangat cerdas. Ini membuat seluruh sistem terukur dan mudah direplikasi. Kami sangat tertarik untuk menerapkan model serupa,” ungkap seorang perwakilan dari Malaysia.

Bukan Sekadar Kunjungan, Tapi Jembatan Kolaborasi

Kunjungan ini diakhiri dengan sesi diskusi yang hangat, di mana delegasi menggali lebih dalam tentang model bisnis, tantangan, dan strategi keberlanjutan Manah Liang.

Kunjungan SusNet Business Network ini lebih dari sekadar studi banding. Ini adalah penegasan bahwa TPS3R Manah Liang telah berhasil menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang berfungsi. Sebuah model yang siap dibagikan dan direplikasi untuk menjawab tantangan sampah di Asia Tenggara dan dunia.

Berita Lainnya